Penambang di Pegunungan Bintang Diserang OTK, 9 Orang Tewas, Evakuasi Terkendala Jalur Sungai

Berita, TNI/POLRI87 Dilihat
Advertisements

Kabardigoel, Boven Digoel — Aparat gabungan TNI-Polri mengungkap perkembangan kasus dugaan pembunuhan terhadap para penambang di area tambang emas Kalifis, Kampung KW, Distrik Awimbon, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan. Dalam insiden berdarah tersebut, sembilan orang dilaporkan meninggal dunia, sementara proses evakuasi korban hingga kini masih terkendala penutupan jalur sungai oleh kelompok pelaku.

Konferensi pers digelar di Mapolres Boven Digoel, Kamis (21/5/2026), dipimpin langsung Kapolres Boven Digoel, KBP Wisnu Perdana, didampingi Dandim 1711/Boven Digoel, Danyon 803, serta Kasat Intelkam Polres Boven Digoel.

Kapolres menjelaskan, peristiwa penyerangan terjadi pada Senin, 18 Mei 2026 sekitar pukul 14.00 WIT di kawasan tambang emas Kalifis. Berdasarkan laporan awal, sekitar lima orang tidak dikenal (OTK) mendatangi camp penambang dengan membawa senjata tajam berupa parang dan busur panah.

Saat kejadian, para korban diketahui sedang memperbaiki mesin tambang. Kelompok OTK tersebut awalnya meminta makan, minum, hingga kopi kepada para korban sebelum akhirnya melakukan penyerangan secara tiba-tiba.

“Akibat penyerangan tersebut sejumlah korban meninggal dunia dan lainnya mengalami luka-luka,” ujar Kapolres dalam konferensi pers.

Pihak kepolisian awalnya menerima laporan adanya dua korban jiwa. Namun setelah proses pendataan dilakukan di lapangan, jumlah korban terus bertambah.

“Hingga hari ini terdapat 11 orang yang diduga menjadi korban. Dari jumlah tersebut, sembilan orang telah terverifikasi meninggal dunia,” jelas Kapolres.

Dari sembilan korban meninggal dunia, delapan di antaranya merupakan non Orang Asli Papua (OAP), sementara satu korban lainnya merupakan OAP.

Satu korban telah dimakamkan di lokasi kejadian, sedangkan delapan jenazah lainnya dilaporkan masih berada di sepanjang Sungai Pisang-Pisang menunggu proses evakuasi.

Kapolres mengungkapkan proses evakuasi mengalami hambatan karena akses utama melalui Sungai Pisang-Pisang sempat dipalang oleh kelompok pelaku.

Kelompok tersebut melarang aktivitas di sepanjang bibir sungai sehingga masyarakat maupun aparat kesulitan mengevakuasi korban dan pengungsi dari lokasi tambang.

“Kami sudah melakukan koordinasi dengan masyarakat, pihak koperasi, pemerintah daerah, dan unsur TNI untuk membuka kembali akses sungai,” katanya.

Meski sempat dibuka beberapa jam, jalur tersebut kembali ditutup sehingga evakuasi belum berjalan maksimal.

Selain korban meninggal dunia, aparat memperkirakan masih terdapat sekitar 100 hingga 150 penambang dan pengungsi di kawasan Kalifis dan Sungai Pisang-Pisang. Para pengungsi nantinya akan diarahkan menuju Dermaga Iwok sebelum dibawa ke Mapolres Boven Digoel untuk menjalani trauma healing dan pemeriksaan sebagai saksi.

“Setibanya di Tanah Merah, mereka akan menjalani trauma healing dan dimintai keterangan,” ujar Kapolres.

Polisi juga masih melakukan identifikasi lanjutan terhadap seluruh korban guna memastikan data yang diperoleh valid dan akurat. Kasus penyerangan ini sekaligus menjadi perhatian serius aparat keamanan terkait maraknya aktivitas tambang ilegal di wilayah perbatasan Pegunungan Bintang dan Boven Digoel.

Kapolres menegaskan sejak 2024 aparat bersama pemerintah daerah dan TNI telah melakukan berbagai upaya pencegahan, termasuk pembatasan akses transportasi udara maupun jalur sungai menuju lokasi tambang ilegal. Namun aktivitas penambangan liar disebut masih terus berlangsung.

“Karena itu kami akan melakukan penegakan hukum, bukan hanya kepada para penambang ilegal tetapi juga pemodal dan pihak-pihak yang terlibat,” tegasnya.

Selain pasal pembunuhan dan penganiayaan berat, aparat juga akan menerapkan Undang-Undang Minerba terkait pengelolaan sumber daya alam ilegal.

Sementara itu, Dandim 1711/Boven Digoel menyampaikan bahwa lokasi kejadian secara administratif berada di Kabupaten Pegunungan Bintang, namun akses tercepat menuju lokasi memang melalui wilayah Boven Digoel.

TNI bersama Polri selama ini disebut terus melakukan pengawasan terhadap jalur menuju tambang ilegal, termasuk pembatasan penggunaan helipad non-pemerintah dan transportasi sungai.

Meski terjadi insiden tersebut, Dandim memastikan kondisi keamanan di Tanah Merah dan Boven Digoel secara umum tetap aman dan kondusif.

“Kami mengimbau masyarakat tidak mudah terpengaruh isu-isu yang belum jelas kebenarannya. Aktivitas ekonomi, transportasi udara, dan transportasi sungai tetap berjalan normal,” ujarnya.

Hingga kini aparat keamanan masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas pelaku. Dugaan keterlibatan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) belum dapat dipastikan dan aparat masih menggunakan istilah OTK sambil menunggu hasil investigasi lebih lanjut.

Kabardigoel Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *