Sanggar HOMO Boven Digoel Lestarikan Budaya Lewat Kerajinan Noken

Budaya, Berita11 Dilihat
Advertisements

KABARDIGOEL, BOVEN DIGOEL – Sanggar HOMO di Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, terus melestarikan budaya lokal melalui produksi kerajinan noken dan mahkota adat. Sanggar yang diasuh Dinas Pariwisata Kabupaten Boven Digoel ini melibatkan 26 pekerja yang mengerjakan kerajinan dari rumah masing-masing.

Ketua Sanggar HOMO, William Elohu, saat ditemui di kediamannya di Jalan SMA RT 13, Sokanggo, Distrik Mandobo, Selasa (13/10/2026), mengatakan bahwa sanggar tersebut memproduksi noken biasa dan noken jari yang dikembangkan melalui kreativitas bersama istrinya.

Menurut William, noken produksi Sanggar HOMO memiliki harga bervariasi, mulai dari Rp200.000 hingga Rp500.000, bergantung pada ukuran. Kerajinan tersebut memadukan motif seni rajutan Suku Kombai dengan unsur motif seni Suku Auyu dan Korowai.

“Jenis noken yang kami produksi ada noken biasa dan noken jari. Pengerjaannya melibatkan anggota sanggar yang bekerja dari rumah masing-masing,” ujar William.

Ia menjelaskan, pada awal pembentukannya, Sanggar HOMO telah memiliki struktur bidang seni yang mencakup seni pahat, seni ukir, dan seni lukis. Namun, ketiga bidang tersebut belum dapat berproduksi karena keterbatasan ketersediaan bahan baku. Untuk sementara, kegiatan produksi difokuskan pada noken dan mahkota adat.

William mengungkapkan, produk noken Sanggar HOMO mulai dikenal di luar daerah melalui promosi dalam berbagai pagelaran seni dan budaya. Sejak 2024, produk tersebut telah dipromosikan dalam kegiatan seni budaya di sejumlah kota, termasuk Jakarta, Bandung, dan Bali.

Promosi tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan kerajinan khas masyarakat Boven Digoel kepada khalayak yang lebih luas sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi merajut noken.

Dalam proses produksi, Sanggar HOMO menggunakan serat kayu genemo sebagai bahan baku noken. Bahan tersebut diperoleh dari kawasan hutan di sekitar Kota Tanah Merah, sepanjang aliran Sungai Digoel, dengan membeli dari pemilik hak atas bahan baku.

William menyebutkan, biaya pengadaan bahan baku dari kawasan tersebut dapat mencapai Rp500.000. Sementara itu, bahan baku di wilayah Kombai sebenarnya tersedia dan berasal dari wilayah yang dikuasai masyarakat setempat. Namun, biaya transportasi untuk mengambilnya diperkirakan mencapai Rp5 juta.

Pertimbangan biaya tersebut membuat William bersama anggota sanggar memilih mengambil bahan baku dari kawasan sekitar Kota Tanah Merah agar pengeluaran produksi lebih terkendali.

Sanggar HOMO mengusung falsafah “Bersatu dalam Kebersamaan, Belajar dari Budaya dan Bersatu untuk Generasi” sebagai landasan kegiatan seni, budaya, pendidikan, dan pelestarian adat.

Melalui produksi noken dan mahkota adat, Sanggar HOMO tidak hanya berupaya mempertahankan keterampilan tradisional, tetapi juga membuka ruang keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ekonomi kreatif berbasis budaya.

Ke depan, ketersediaan bahan baku dan dukungan pengembangan produksi menjadi faktor penting agar sanggar dapat mengembangkan kembali bidang seni pahat, ukir, dan lukis, sekaligus memperluas pengenalan budaya lokal Boven Digoel ke tingkat yang lebih luas.

Kabardigoel Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *