Wabup Marlinus Buka Konferensi Enam Suku di Boven Digoel: Tegaskan Peran Masyarakat Adat Jaga Tanah dan SDA

Berita382 Dilihat
Advertisements

Kabar Digoel – Wakil Bupati Boven Digoel, Marlinus, resmi membuka Konferensi Solidaritas Masyarakat Adat Enam Suku yang melibatkan Suku Muyu, Wambon, Auyu, Kombay, Koroway, dan Wanggom di Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan. Acara ini menjadi momentum penting untuk memperkuat peran masyarakat adat dalam melindungi manusia, tanah, dan sumber daya alam (SDA) daerah, Senin (17/11/2025).

Dalam sambutannya, Wabup Marlinus menegaskan bahwa Papua terbagi ke dalam tujuh wilayah adat, salah satunya Wilayah Adat Anim Ha, yang membawahi empat kabupaten termasuk Boven Digoel. Ia menilai bahwa identitas dan cara hidup Orang Asli Papua sangat ditentukan oleh lingkungan tempat mereka hidup.

“Boven Digoel memiliki 20 distrik, 112 kampung, dan dihuni oleh enam suku besar serta berbagai sub-suku dengan keragaman bahasa dan dialek. Selain itu, terdapat juga suku-suku nusantara yang telah lama hidup berdampingan sejak sebelum pemekaran,” ujar Wabup Marlinus.

Tema Konferensi Bukan Sekadar Slogan

Marlinus menekankan bahwa tema konferensi, “Selamatkan manusia, tanah, dan sumber daya alam Kabupaten Boven Digoel”, merupakan panggilan moral bagi seluruh anak adat untuk menjaga warisan leluhur. Ia menegaskan bahwa tanah, hutan, sungai, dan seluruh sumber daya alam bukan sekadar aset ekonomi, tetapi identitas dan roh kehidupan masyarakat adat.

Menurutnya, pelibatan masyarakat adat dalam pembangunan bukan opsi, tetapi keharusan. Pemerintah daerah memahami bahwa masyarakat adat memiliki pengetahuan lokal dan kearifan tradisional yang telah teruji lintas generasi.

“Masyarakat adat bukan hanya objek, tetapi subjek pembangunan. Mereka harus menjadi pelaku utama yang menentukan masa depan daerah ini,” tegasnya.

Dorong Pola Pikir Kritis dan Mandiri

Marlinus juga menyampaikan bahwa melalui visi dan misi kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati, pemerintah daerah terus mendorong masyarakat adat agar memiliki pola pikir kritis, kreatif, inovatif, dan proaktif. Tujuannya agar masyarakat adat mampu bangkit, mandiri, serta bisa berperan aktif dalam pengambilan keputusan di berbagai sektor, seperti ekonomi, budaya, pendidikan, dan politik.

Ia berharap konferensi tersebut melahirkan rumusan dan rekomendasi konkret yang bisa menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan publik yang berpihak pada masyarakat adat.

Apresiasi untuk Penyelenggara

Pada kesempatan itu, Wabup Marlinus mengapresiasi Analisis Papua Strategis (APS) yang telah memfasilitasi penyelenggaraan konferensi, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam mendukung kegiatan masyarakat adat tersebut.

Kabardigoel Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *