
KABARDIGOEL.COM, TANAH MERAH – Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI Boven Digoel memiliki perjalanan panjang sejak dibentuk sebagai Radio Pemerintah Daerah (Pemda) pada 2009 hingga berkembang menjadi RRI berstatus Tipe C pada 2012. Kisah perjalanan tersebut diungkapkan Yoris Goden atau yang akrab disapa Bung Yoris, salah satu perintis lembaga penyiaran radio di Kabupaten Boven Digoel, dalam wawancara bersama Media Kabar Digoel.
Bung yoris menjelaskan, pembentukan Radio Pemda berawal dari kepedulian Bupati Boven Digoel saat itu, Yusak Yaluwo, bersama Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Vio Silubun. Keduanya menginginkan kehadiran media penyiaran yang mampu menyampaikan informasi terpercaya kepada masyarakat.
“Mereka ingin supaya di Boven Digoel ini ada informasi yang memang betul-betul terpercaya. Maka saat itu dibentuklah Radio Pemda,” ujar Bung yoris
Pada awal berdirinya, Radio Pemda menempati ruangan sederhana di lingkungan Dinas Kominfo. Beberapa bulan kemudian, muncul gagasan untuk menghibahkan radio tersebut kepada Radio Republik Indonesia (RRI).
Menurut Bung yoris, gagasan itu dicetuskan oleh Vio Silubun bersama Ibu Mary dan Rorempandey. Setelah pengelolaan diserahkan kepada RRI Pusat, lembaga tersebut berstatus Stasiun Produksi (SP).
Perjalanan kelembagaan berlanjut pada 2012, ketika status Stasiun Produksi meningkat menjadi RRI Tipe C. Status tersebut bertahan hingga saat ini.
Peningkatan status itu juga diikuti dengan perekrutan pegawai baru sebagai bagian dari persiapan pengembangan kelembagaan dan pelayanan penyiaran di daerah.
Dalam mengenang masa awal berdirinya RRI Boven Digoel, Bung yoris menceritakan perjuangan para pegawai yang menghadapi keterbatasan fasilitas dan beratnya perjalanan menuju wilayah Boven Digoel.
Saat itu, perjalanan dari Merauke menuju Boven Digoel masih terkendala kondisi jalan yang buruk. Lumpur dan kubangan menjadi tantangan yang harus dihadapi para perintis, bahkan perjalanan dapat berlangsung berhari-hari.
“Dua hari, bahkan satu minggu perjalanan! Itu pun kalau jalannya becek sekali, kita tidak tahu seperti apa kubangan-kubangan itu,” kenangnya.
Pada tahap awal, sebanyak 10 orang direkrut dari Radio Pemda. Namun, dalam perkembangannya, jumlah tersebut berkurang menjadi delapan orang karena sebagian memilih tidak melanjutkan pengabdian.
“Ini kembali lagi ke panggilan hati,” kata Bung yoris.
Bung yoris juga menjelaskan perubahan status kepegawaian para perintis RRI Boven Digoel. Pada awalnya, mereka direkrut sebagai tenaga honorer daerah. Setelah pengelolaan beralih ke RRI Pusat, status mereka berubah menjadi pegawai pusat non-PNS.
Memasuki 2024, para pegawai tersebut beralih menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) penuh waktu.
Ia mengaku bersyukur atas peningkatan kesejahteraan yang diterima setelah melalui perjalanan panjang dalam pengabdian di dunia penyiaran.
“Kalau untuk kesejahteraan itu memang luar biasa, karena kita sudah di P3K. Syukuri apa yang negara beri, itu bagian yang terpenting,” tuturnya.
Melihat perkembangan RRI Boven Digoel saat ini, Bung yoris mengaku terharu atas berbagai pembenahan yang telah dilakukan secara bertahap. Meski demikian, ia menilai dukungan sarana dan prasarana masih diperlukan, termasuk harapan agar RRI Boven Digoel dapat memiliki gedung sendiri.
Ia juga mengajak Pemerintah Kabupaten Boven Digoel untuk terus merangkul RRI sebagai mitra strategis dalam menyampaikan informasi pembangunan kepada masyarakat.
Menurutnya, RRI bukan sekadar media penyiaran, melainkan ruang komunikasi dua arah yang menghubungkan pemerintah dengan masyarakat.
“Jangan pernah kita jauh dari RRI. RRI itu bagian dari pemerintah yang bidangnya di media. Mari kita lihat RRI, jangan takut. Untuk apa takut kalau kita memberikan informasi yang baik kepada masyarakat, sehingga masyarakat tahu progres program pemerintah. Sebaliknya, suara masyarakat juga didengar,” katanya.
Bung yoris turut mengajak masyarakat, pendengar, dan media lokal untuk bersama-sama membangun ekosistem informasi yang sehat. Menurutnya, keterbukaan komunikasi antarmedia dapat membantu masyarakat di luar daerah lebih mengenal Boven Digoel.
Ia juga menyampaikan pesan kepada seluruh angkasawan dan angkasawati RRI agar tetap mengutamakan ketulusan dalam menjalankan tugas pelayanan informasi.
“Mari kita kerja dengan hati, mari kita kerja tulus untuk melayani informasi yang baik kepada masyarakat kita,” pesannya.
Perjalanan RRI Boven Digoel menjadi bagian dari sejarah perkembangan penyiaran dan penyebaran informasi di wilayah tersebut. Dengan dukungan pemerintah, partisipasi masyarakat, serta komitmen para insan penyiaran, RRI diharapkan terus menjadi sumber informasi yang terpercaya dan jembatan komunikasi antara pemerintah dan rakyat.
Sebagaimana semboyan yang melekat pada RRI, Bung yoris menutup kisahnya dengan ungkapan, “Sekali di udara, tetap di udara!”







