Ramadhan dan Prapaskah Jadi Momentum Memperkuat Semangat Toleransi Dalam Keluarga

Berita263 Dilihat
Advertisements

Kabardigoel, Boven Digoel – Momentum bulan suci Ramadhan yang beriringan dengan masa Prapaskah menjadi pengalaman spiritual yang penuh makna bagi keluarga Ibu Sukengsih di Kabupaten Boven Digoel. Perbedaan keyakinan di dalam keluarga tersebut justru menjadi ruang untuk memperkuat nilai toleransi dan saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.

Ibu Sukengsih menceritakan bahwa keluarganya menjalani kehidupan dengan dua keyakinan yang berbeda. Ia bersama dua orang anaknya memeluk agama Katolik, sementara sang suami bersama dua anak lainnya menjalankan ajaran Islam.

Meski berbeda keyakinan, kehidupan rumah tangga mereka tetap harmonis dan penuh saling pengertian. Terlebih ketika bulan Ramadhan dan masa Prapaskah berlangsung bersamaan, suasana toleransi semakin terasa di dalam keluarga.

“Dalam keluarga kami memang ada dua keyakinan, tetapi justru di situlah kami belajar saling menghormati. Saat bulan puasa dan masa Prapaskah berlangsung bersamaan, kami semakin merasakan pentingnya toleransi,” ujar Sukengsih, Minggu (15/3/2026).

Menurutnya, setiap anggota keluarga berusaha menjaga sikap serta menghormati ibadah yang dijalankan oleh masing-masing. Saat anggota keluarga yang Muslim menjalankan ibadah puasa, anggota keluarga lainnya juga berusaha menjaga suasana agar tetap nyaman dan penuh penghormatan.

Ia menegaskan bahwa kunci utama menjaga keharmonisan dalam keluarga adalah sikap saling memahami dan menghargai keyakinan satu sama lain. Dengan begitu, perbedaan tidak menjadi sumber konflik, tetapi justru menjadi kekuatan yang mempererat hubungan keluarga.

Sukengsih juga menilai bahwa nilai toleransi yang ditanamkan dalam keluarga sangat penting untuk membentuk karakter anak-anak agar sejak dini memahami arti hidup berdampingan dalam perbedaan.

Menurutnya, pengalaman hidup dalam keluarga yang beragam keyakinan memberikan pelajaran penting tentang kasih, penghargaan, dan kebersamaan.

Ia pun berharap kisah toleransi yang terbangun dalam keluarganya dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat luas, khususnya dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di tengah keberagaman Indonesia.

“Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling melengkapi. Jika kita saling menghargai, maka kedamaian akan selalu ada,” tutupnya.

Kabardigoel Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *