Ketahanan Pangan dan Akses Pasar Jadi Keluhan Utama Warga Saat Kunjungan Kemendes PDT di Boven Digoel

Berita110 Dilihat
Advertisements

Kabardigoel, Boven Digoel – Persoalan ketahanan pangan dan lemahnya akses pemasaran hasil produksi masyarakat menjadi aspirasi utama yang disampaikan warga kepada Pemerintah Kabupaten Boven Digoel saat mendampingi kunjungan Tim Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) di sejumlah distrik, Rabu (6/5/2026).

Keluhan tersebut disampaikan masyarakat di Distrik Mandobo, Mindiptana hingga Woropko. Warga berharap adanya perhatian serius dari pemerintah terhadap pengembangan ekonomi kampung, peningkatan produksi pangan lokal, serta dukungan pemasaran hasil usaha masyarakat.

Wakil Bupati Boven Digoel, Marlinus, mengatakan hampir seluruh aspirasi masyarakat memiliki kesamaan, terutama menyangkut ketahanan pangan dan keterbatasan akses pasar bagi hasil produksi warga.

Menurutnya, kondisi tersebut bukan berarti masyarakat tidak memiliki kemauan untuk bekerja atau mengembangkan potensi daerah. Namun, keterbatasan infrastruktur dan dukungan pemasaran masih menjadi hambatan utama di lapangan.

“Keluhan masyarakat hampir semuanya sama, terutama terkait ketahanan pangan. Tetapi ini bukan berarti masyarakat tidak mau bekerja atau tidak berusaha meningkatkan hasil produksi mereka. Masyarakat di kampung-kampung tetap berupaya mengembangkan potensi yang ada sesuai kondisi wilayah di Papua,” ujar Marlinus.

Ia menjelaskan, pengembangan sektor pangan di wilayah Papua, khususnya Kabupaten Boven Digoel, lebih difokuskan pada pangan lokal yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat.

Pemerintah daerah, lanjutnya, terus mendorong masyarakat agar mempertahankan dan mengembangkan komoditas lokal sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan daerah.

Selain pangan lokal, masyarakat juga mulai mengembangkan berbagai komoditas unggulan seperti karet, kopi, kakao hingga durian. Potensi tersebut dinilai cukup menjanjikan untuk meningkatkan perekonomian warga apabila mendapat dukungan serius dari pemerintah.

Namun, persoalan terbesar yang kini dihadapi masyarakat bukan hanya pada proses produksi, melainkan akses pemasaran hasil usaha mereka. Banyak hasil kebun dan perkebunan warga yang belum dapat dipasarkan secara maksimal akibat keterbatasan infrastruktur, transportasi, serta minimnya jaringan pasar yang mampu menampung hasil produksi masyarakat secara berkelanjutan.

“Potensi daerah sebenarnya sangat besar. Masyarakat sudah mulai mengembangkan karet, kopi, kakao dan durian. Tetapi kendala terbesar ada pada sisi pemasaran. Hasil produksi masyarakat sering mengalami kesulitan untuk dijual karena akses dan jaringan pasar yang masih terbatas,” katanya.

Kehadiran Tim Kemendes PDT diharapkan menjadi pintu masuk bagi pemerintah pusat untuk melihat langsung kondisi riil masyarakat di wilayah perbatasan dan daerah terpencil di Boven Digoel.

Melalui kunjungan tersebut, berbagai program pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi kampung hingga pembangunan infrastruktur penunjang diharapkan dapat disinergikan secara berkelanjutan antara pemerintah pusat dan daerah.

Marlinus menegaskan, Pemerintah Kabupaten Boven Digoel terus membangun kolaborasi dengan pemerintah pusat agar potensi pertanian dan perkebunan masyarakat dapat berkembang lebih baik dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kesejahteraan warga.

“Kami berharap aspirasi masyarakat ini dapat menjadi perhatian bersama. Daerah memiliki potensi besar, tinggal bagaimana dukungan pemerintah dalam membuka akses, memperkuat pendampingan, dan membantu pemasaran hasil produksi masyarakat,” ujarnya.

Kabardigoel Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *