Kemarau Panjang, Jamaah Tanah Merah Gelar Sholat Istisqa

Berita52 Dilihat
Advertisements

KABARDIGOEL.COM, TANAH MERAH – Menghadapi kemarau panjang yang melanda Kabupaten Boven Digoel sejak awal 2026, umat Islam di Tanah Merah menggelar Sholat Istisqa untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT. Kegiatan ini berlangsung di pelataran Masjid Darul Hidayah Titik Nol, Kamis (22/10/2026), pukul 09.00 WIT, dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional.

Kemarau berkepanjangan tersebut dilaporkan menyebabkan kekeringan di berbagai wilayah, disertai kebakaran hutan dan lahan yang bahkan merambah lingkungan permukiman. Kondisi ini mendorong Jamaah Masjid Darul Hidayah Titik Nol bersama masyarakat Muslim Tanah Merah melaksanakan ikhtiar spiritual melalui Sholat Istisqa.

Sholat dua rakaat tersebut dipimpin Ustadz Ahmad Siddiq, S.Ag., yang sekaligus bertindak sebagai imam dan khatib. Kegiatan dihadiri Danramil 1711-03/Tanah Merah Mayor Inf Warsito, Ketua Ikatan Persaudaraan Haji H. Chaerul Anwar, tokoh agama, pimpinan pondok pesantren dan TPQ, majelis taklim, para santri se-Tanah Merah, serta masyarakat dan jamaah masjid.

Dalam khutbahnya, Ustadz Ahmad Siddiq menegaskan bahwa hujan bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga dipandang sebagai rahmat dan rezeki dari Allah SWT. Karena itu, ketika menghadapi kekeringan, umat Islam diajak tidak hanya berikhtiar secara lahiriah, tetapi juga memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

Khatib mengutip firman Allah SWT dalam Surah Nuh ayat 10–12 dan Surah Hud ayat 52 mengenai istigfar, taubat, serta janji rahmat dan keberkahan Allah. Ia mengingatkan jamaah agar permohonan turunnya hujan disertai kesungguhan memperbaiki diri.

“Janganlah kita hanya meminta hujan dengan lisan sementara hati dan perbuatan kita jauh dari apa yang diperintahkan Allah,” pesan Ustadz Ahmad Siddiq.

Ia juga mengajak jamaah melakukan introspeksi diri, meninggalkan perbuatan dosa, menunaikan kewajiban agama, meminta maaf kepada orang yang pernah dizalimi, serta menyelesaikan hak-hak sesama manusia. Menurutnya, taubat yang sungguh-sungguh harus disertai penyesalan, meninggalkan dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya.

Selain mengajak umat memperbanyak istigfar dan taubat, khatib mengingatkan pentingnya menunaikan zakat, memperbanyak sedekah, membantu fakir miskin dan anak yatim, serta menghindari permusuhan.

Jamaah juga didorong untuk saling memaafkan, memperbaiki hubungan dengan keluarga dan tetangga, serta mengembalikan hak orang lain. Kepedulian terhadap kaum lemah, termasuk anak yatim dan lanjut usia, menjadi salah satu pesan penting dalam khutbah tersebut.

“Sebab kita sedang meminta rahmat kepada Allah, maka permohonan rahmat itu haruslah kita iringi dengan memberikan rahmat kepada sesama,” ujarnya.

Khatib turut menyampaikan kisah Nabi Sulaiman AS yang dikaitkan dengan doa seekor semut sebagai pengingat tentang pentingnya kerendahan hati dan kasih sayang terhadap sesama makhluk.

Khutbah ditutup dengan doa memohon hujan yang bermanfaat, tidak menimbulkan bencana, serta mengangkat kesulitan yang dihadapi masyarakat. Seluruh jamaah mengamini doa tersebut dengan khusyuk.

Sholat Istisqa merupakan sholat sunnah yang dilaksanakan umat Islam untuk memohon hujan ketika terjadi kemarau atau kekeringan. Melalui kegiatan ini, masyarakat Tanah Merah berharap hujan segera turun sehingga kondisi lingkungan berangsur pulih, kebakaran hutan dan lahan dapat diatasi, serta aktivitas masyarakat Boven Digoel kembali berjalan normal.

Di tengah kondisi kemarau, ikhtiar spiritual tersebut menjadi pengingat akan pentingnya memperkuat solidaritas sosial dan meningkatkan kepedulian terhadap warga yang terdampak kekeringan. Upaya doa dan perbaikan diri diharapkan berjalan beriringan dengan langkah nyata untuk mencegah serta menangani kebakaran hutan dan lahan.

Kabardigoel Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *